Hidup yang Dipertaruhkan layak Dimenangkan

7 Jan 2026, 19.33187
22ad46ed 411a 4c75 a270 e4b315c31f7d

 

Perjalanan hidup Azis Subekti dalam menggapai cita-cita tak pernah ia kenang sebagai jalan yang landai. Ia justru tumbuh dari tikungan-tikungan tajam kehidupan. Namun dari setiap kesulitan itu, selalu ada kalimat yang ia pegang erat: “Mendung yang bergelanyut akan segera pergi, hujan akan datang membawa keberkahan. Malam yang mencekam pasti berjalan menuju pagi yang cerah. Dunia selalu dipergilirkan.” Keyakinan itu membuatnya bertahan, bahkan ketika harapan tampak menjauh. Ia percaya, hidup memang tak selalu ramah, tetapi selalu adil pada mereka yang mau berjalan terus.

Selepas pelepasan siswa SMA, realitas datang tanpa basa-basi. Cita-citanya melangit ingin menjadi guru besar bahkan pernah dicatat dalam majalah sekolah KHARISMA edisi Mei 1994. Ia diterima di IKIP Semarang jurusan Fisika tanpa tes, sebuah pengakuan atas prestasi akademiknya. Namun hidup kembali berbelok. Kesempatan mengenyam bangku perguruan tinggi tak hadir pada waktunya. Mimpi besar itu seakan menggantung di langit, indah dipandang, tetapi belum bisa diraih.

Awal Juli 1994 menjadi titik balik yang tak direncanakan. Azis bekerja sebagai karyawan kantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan—segitiga emas dunia bisnis yang terasa asing bagi seorang anak muda dari daerah. Belum genap sebulan, kesungguhannya mengerjakan tugas-tugas yang bahkan bukan tanggung jawabnya menarik perhatian manajer. Dari percakapan sederhana tentang latar pendidikan, terungkap bahwa ia adalah mantan siswa teladan SLTA Provinsi Jawa Tengah 1993 dengan segudang prestasi. Dari situlah jalan terbuka: ia diizinkan kuliah sambil bekerja, dengan beasiswa penuh dari perusahaan. Hidup kembali menunjukkan wataknya keras di awal, murah hati di tengah perjalanan.

Di Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Muhammadiyah Jakarta, Azis tidak hanya belajar mesin dan rumus. Pada semester empat, ia terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik melalui pemilu langsung. Ia tercatat sebagai mahasiswa termuda pertama yang memegang amanah itu.

Masa kepemimpinannya, 1996–1997, adalah masa pra-Reformasi periode penuh ledakan politik yang tak terduga. Ketua senat mahasiswa saat itu bukan sekadar jabatan, melainkan simpul penting gerakan. Ia berjumpa dan berdialog dengan tokoh-tokoh vokal seperti Sri Bintang Pamungkas dan Amien Rais, serta aktivis-aktivis seperti Nuku Sulaeman dan kawan-kawan dari berbagai kampus di Jakarta. Dari sana ia belajar satu hal penting: keberanian berpikir sering kali harus dibayar dengan risiko.

Perjalanan akademiknya berjalan dengan cara yang tak lazim. Ia masuk, keluar, lalu kembali masuk kampus. Aktivitas gerakan 1998, politik pada kurun 1998–2001, pengembaraan ke mancanegara 2001–2003, pernikahan, hingga dunia wirausaha membuatnya lama menghilang dari bangku kuliah.

Namun komitmen itu tak pernah benar-benar padam. Tahun 2006 ia menamatkan pendidikan S1-nya. Setahun kemudian, 2007, ia diterima sebagai mahasiswa S2 Teknik Industri Universitas Indonesia. Tesisnya ia pertahankan di hadapan para penguji, salah satunya Dr. Sri Bintang Pamungkas tokoh yang dahulu ia temui di jalanan gerakan 1997–1998. Ia diwisuda awal 2010. Sebuah lingkaran hidup yang tertutup dengan kesetiaan pada proses.

Azis dikenal sebagai pribadi yang cepat menyesuaikan diri dengan suasana baru. Keinginannya untuk melayani lebih besar daripada hasrat untuk dilayani. Mengalah terasa lebih mudah daripada memelihara ego. Ia memilih kejernihan, berpihak karena kesetiakawanan dan kebenaran. Karier politiknya dimulai sebagai Ketua DPP Barisan Muda Penegak Amanat Nasional. Pada Pemilu 1999, di awal era Reformasi, Hatta Rajasa selaku Ketua Tim Pelaksana Pemenangan Pemilu DPP PAN menunjuknya sebagai Komandan Sekretariat. Tugas itu membuatnya bolak-balik Jakarta–Cirebon, berkoordinasi dengan Bendahara Umum PAN saat itu, Ir. Soenoto.

Di DPP PAN, posisinya berlanjut sebagai Wakil Sekjen. Di mata para senior seperti Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, dan Azwar Abubakar, Azis dikenal sebagai sosok yunior yang multitalenta. Ia dipercaya memegang kendali strategis organisasi dan terlibat aktif dalam agenda reformasi birokrasi ketika Azwar Abubakar menjabat Menteri PAN-RB.

Di kementerian itu, Azis dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri. Dari ruang-ruang birokrasi ia belajar bahwa perubahan tidak cukup dengan slogan ia menuntut ketekunan dan keberanian mengambil risiko.

Dalam kehidupan pribadi, Azis menikahi Ina Sujianti pada Mei 2003. Setahun kemudian lahir putri pertamanya, Sausan Shafia Inabek (29 Februari 2004). Tiga tahun berselang, lahir putra keduanya, Diwan Basya Muhara (18 Mei 2007), disusul putra ketiga, Alisyar Azis Muhara (27 Februari 2009). Dengan tiga anak—satu perempuan dan dua laki-laki, ia dan istrinya merasa hidup telah dianugerahi karunia yang mencukupkan. Dari keluarganya, ia belajar arti pulang dan syukur.

Ketika ditanya tentang ambisi politik, Azis menjawab dengan tenang, “Saya sudah sering menjadi calon. Menurut saya, pelajaran hidup yang tidak kalah penting adalah kekalahan. Orang yang berpikir positif menyebutnya sukses yang tertunda.” Ia percaya pada satu kalimat yang selalu ia ingat dari Sutan Syahrir: “Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan.” Karena itulah ia tak pernah lelah mencalonkan atau dicalonkan bukan demi ambisi pribadi, melainkan agar ikhtiarnya selalu punya makna bagi orang banyak.

Pada 14 Agustus 2017, ia memilih jalan lain: mundur dari kepengurusan DPP PAN sebagai Ketua Badan Koordinasi Kelembagaan di era kepemimpinan Zulkifli Hasan. Tanpa partai, ia tetap aktif menekuni profesionalitas di bidang perangkat lunak dan big data bersama Dudy Rudianto, yang diperkenalkan oleh Suherlan, teman satu angkatan di FT UMJ jurusan elektro, murid kesayangan Prof. Dr. Ir. Muhammadi Siswo Sudharmo, MSc, Rektor UMJ saat itu. Dari dunia ini, jejaring lintas kelompok terbangun.

Persahabatan intens terjalin dengan kalangan muda Partai Gerindra, terutama sejak 2014 saat terlibat dalam pemenangan pasangan Prabowo–Hatta. Hubungan itu berjalan sunyi namun strategis. Ia kerap berada di belakang panggung, keluar-masuk ruang steril yang biasanya hanya diakses kader utama Gerindra. Keputusan untuk all out bersama Gerindra ia ambil dengan penuh kesadaran. Penyerahan KTA dilakukan dalam kerja senyap oleh Danang Wicaksono Sulistyo dan diumumkan Endipat Wijaya dalam pertemuan kader terbatas di lantai empat DPP Gerindra, Ragunan.

Sejak itu, intensitas kerja bersama Endipat Wijaya, Setyoko, Danang Wicaksono, serta pada level pimpinan dengan Ahmad Muzani, Prasetyo Hadi, dan Sugiono semakin rapat. Penelitian big data dan sistem kepemiluan mendapat dukungan langsung dari Prasetyo Hadi dan Sugiono. Ia tak pernah melupakan peran Haris Bobihoe yang setia menemani dalam suka dan duka. Pada Pilpres 2019, ia secara mendadak menjadi saksi mandat rekapitulasi suara nasional di KPU RI untuk pasangan Prabowo–Sandi, bertahan hingga tuntas. Video penolakannya terhadap rekapitulasi suara nasional menjadi viral sebuah momen yang ia kenang sebagai ujian keberanian dan keteguhan.

Aktivitas bersama elit muda DPP Gerindra kian padat hingga memperkuat tim monitoring dan kebijakan opini pasangan Prabowo–Gibran yang berposko di Sriwijaya 16, di bawah koordinasi Budi Djiwandono dan dukungan penuh Angga Raka Prabowo. Tahun 2023–2024 menjadi fase penentuan. Menjelang pencalegan 2024, melalui Danang Wicaksono, Azis diminta mencalonkan diri di DPR RI Dapil Jawa Tengah VI oleh Prasetyo Hadi. Tanpa skenario, pertemuan langsung dengan Prasetyo Hadi di DPP Gerindra menjadi momen bersejarah baginya jelas, terbuka, dan penuh harapan.

Takdir kemudian berjalan. Azis memperoleh amanah sebagai anggota DPR RI, menggantikan Prasetyo Hadi yang dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Sekretaris Negara. Amanah itu ia terima dengan rasa syukur yang hening. “Menjadi anggota DPR RI bukan soal materi,” ujarnya, “melainkan kehormatan dan tanggung jawab.”

Dalam perjalanan pulang-pergi Jakarta–dapil, ia menemukan banyak guru kehidupan: rakyat, tokoh umat, sahabat, dan saudara. Dari mereka ia meneguhkan tekad memperbaiki negeri ini bukan hanya dengan suara, tetapi dengan keteladanan. Keyakinannya tumbuh dari figur pemimpin yang ia anggap layak diteladani: Prabowo Subianto. Dari sanalah langkahnya mantap. Bukan karena jalan selalu mudah, tetapi karena hidup, baginya, memang harus berani dipertaruhkan agar layak dimenangkan.