Isra’ dan Mi’raj: Ketika Langit Mengajarkan Cara Berdiri di Bumi

16 Jan 2026, 09.33176
ChatGPT Image 16 Jan 2026, 09.06.47

 

Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar peristiwa agung yang menantang nalar. Ia adalah bahasa kasih Tuhan kepada manusia yang sedang lelah menanggung hidup. Ia hadir bukan di masa kemenangan, melainkan di titik paling rapuh dalam hidup Muhammad saat kehilangan bertumpuk, penolakan menjadi keseharian, dan bumi terasa sempit untuk berpijak.

Dalam penuturan Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri melalui Sirah Nabawiyyah, Isra’ dan Mi’raj bukanlah pelarian dari realitas, melainkan peneguhan sebelum kembali ke realitas yang lebih berat. Nabi dipanggil ke langit bukan untuk menetap, tetapi untuk pulang membawa satu amanah yang akan menjaga umatnya lintas zaman: sholat.

Urutannya mengandung pesan yang dalam. Sebelum hukum sosial, sebelum tata kelola umat, sebelum sistem kehidupan dibangun, hubungan manusia dengan Tuhan ditegakkan terlebih dahulu. Seakan langit sedang berkata: bangunan sebesar apa pun akan runtuh jika tiangnya rapuh. Dan sholat adalah tiang itu bukan karena beratnya, tetapi karena kedekatannya dengan sumber makna.

Hari ini, kita hidup di zaman yang penuh bunyi namun miskin hening. Manusia bergerak cepat, berpikir cepat, menilai cepat—namun sering lupa berhenti. Banyak yang tampak berhasil di mata dunia, tetapi gugur diam-diam di ruang batin. Dalam situasi seperti ini, sholat kerap diperlakukan sebagai kewajiban administratif: dikerjakan agar gugur, ditinggalkan saat sibuk, disingkat agar efisien.

Padahal, sholat adalah Mi’raj harian orang beriman. Jika Nabi diangkat sekali untuk menerima perintah sholat, maka umatnya dipanggil naik setiap hari—tanpa meninggalkan bumi, tanpa meninggalkan tanggung jawab. Sholat bukan penghindaran dari hidup, melainkan cara agar hidup tidak kehilangan arah. Ia menahan manusia dari kesombongan saat berkuasa, dan dari keputusasaan saat jatuh.

Isra’ dan Mi’raj juga mengajarkan bahwa iman tidak selalu ramah terhadap logika. Quraisy menertawakan, sebagian ragu, tetapi Abu Bakar berdiri tanpa syarat. Dunia hari ini pun sering mengejek nilai-nilai spiritual sebagai tidak praktis. Namun sejarah berulang kali membuktikan: yang meruntuhkan peradaban bukan kekurangan akal, melainkan kehilangan kesadaran moral.

Sholat berdiri sebagai tiang agama karena ia menjaga manusia tetap tegak. Tanpanya, agama mudah berubah menjadi slogan; dengannya, agama menjadi laku. Ia mengajarkan disiplin tanpa paksaan, tunduk tanpa kehilangan martabat, dan taat tanpa mematikan nalar.

Maka Isra’ dan Mi’raj, jika dibaca hari ini, adalah panggilan yang sangat personal: berhentilah sejenak. Di tengah dunia yang terus menuntut, sholat adalah satu-satunya ruang di mana manusia tidak dinilai dari capaian, jabatan, atau pengakuan—melainkan dari kejujuran berdiri di hadapan Tuhannya. Di sanalah manusia meletakkan beban, menurunkan ego, dan mengingat kembali arah pulang.

Setiap takbir adalah undangan. Setiap rukuk adalah pengakuan. Setiap sujud adalah kejujuran terdalam bahwa kita tidak sepenuhnya kuat, dan tidak perlu berpura-pura kuat. Jika hidup terasa goyah, mungkin bukan karena kurang strategi, tetapi karena tiang itu mulai retak. Dan Isra’–Mi’raj mengingatkan kita dengan lembut namun tegas: tegakkan sholatmu, maka Allah akan menegakkan kembali hatimu.

Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan di dunia yang bising ini bukanlah lebih banyak jawaban, melainkan satu hubungan yang utuh hubungan yang setiap hari dipanggil lima kali, agar manusia tidak lupa bagaimana caranya tetap menjadi manusia.

Munjul, 16 Januari 2026

Manusia pembelajar yang berusaha terus kuat dan bermanfaat,

Azis Subekti