Ketika Prancis Kehilangan Wajahnya, Spanyol Menari Seperti Matador

Oleh: Azis Subekti *
Tidak semua kekalahan dimulai oleh sebuah gol.
Sebagian dimulai ketika sebuah tim perlahan tidak lagi mengenali dirinya sendiri.
Malam itu di Arlington, Texas, langit musim panas masih menyisakan hawa hangat ketika dua bangsa sepak bola memasuki lapangan. Di satu sisi berdiri Prancis, negeri yang selama bertahun-tahun menjadikan kekuatan, kecepatan, dan efisiensi sebagai bahasa sepak bolanya. Di sisi lain hadir Spanyol, bangsa yang selalu percaya bahwa bola bukan sekadar benda bundar yang harus dipindahkan dari satu kaki ke kaki lain, melainkan sahabat yang harus diajak berbicara.
Sembilan puluh menit kemudian papan skor memang hanya menunjukkan angka 0-2. Namun pertandingan itu sesungguhnya tidak diukur oleh selisih dua gol.
Ia diukur oleh jarak antara sebuah tim yang sedang kehilangan cermin dirinya dan sebuah tim lain yang sedang memainkan sepak bola sebagaimana ia mempercayainya.
Sejak menit pertama, Spanyol tidak bermain dengan tergesa-gesa. Mereka bergerak seperti seorang matador yang memahami bahwa banteng paling berbahaya justru dapat dikalahkan tanpa banyak berlari. Bola berpindah dari kaki ke kaki dengan ketenangan yang nyaris angkuh. Setiap umpan mengundang pemain Prancis keluar dari posisinya. Setiap perpindahan posisi menciptakan ruang baru yang sebelumnya tidak pernah ada.
Prancis mengejar.
Spanyol mengajak mereka mengejar.
Perbedaannya tampak sederhana, tetapi justru di situlah pertandingan mulai dimenangkan.
Di tengah semua itu berdirilah Mike Maignan.
Sepanjang kariernya ia dikenal sebagai penjaga gawang yang mampu menghidupkan harapan timnya. Tetapi malam itu ia lebih sering berdiri memandangi rekan-rekannya yang terlambat menutup ruang daripada menghadapi rentetan penyelamatan heroik. Penalti Mikel Oyarzabal pada menit ke-22 mengubah papan skor, tetapi tidak mengubah kenyataan bahwa bahkan sebelum bola diletakkan di titik putih, arah pertandingan telah condong ke satu sisi. Seorang penjaga gawang sering kali dapat menyelamatkan sebuah tembakan.
Ia jauh lebih sulit menyelamatkan sebuah tim yang kehilangan keseimbangannya.
Gol kedua menjadi gambaran yang lebih jelas.
Ketika Pedro Porro menyusup dari belakang menerima umpan Dani Olmo, penyelesaian akhirnya memang tenang. Namun sesungguhnya gol itu telah lahir beberapa detik sebelumnya, ketika seluruh struktur pertahanan Prancis gagal membaca perpindahan ruang yang diciptakan Spanyol.
Maignan kembali memungut bola dari gawangnya.
Bukan karena ia lambat.
Melainkan karena sepak bola memang tidak selalu memberi kesempatan kepada seorang penjaga gawang untuk menjadi pahlawan.
Di ujung lapangan yang lain, kisah berbeda sedang ditulis oleh Unai Simón.
Statistik mungkin hanya akan mencatat beberapa penyelamatan.
Namun angka tidak pernah mampu menceritakan keberanian.
Beberapa kali Simón meninggalkan garis gawangnya jauh sebelum Kylian Mbappé ataupun Ousmane Dembélé sempat mengubah ruang kosong menjadi ancaman. Ia berlari keluar dari kotak penalti tanpa ragu, memotong umpan terobosan, menyapu bola, lalu mengembalikannya kepada rekan-rekannya seolah semua itu adalah pekerjaan paling biasa di dunia.
Padahal keputusan seperti itu selalu dipisahkan oleh garis yang sangat tipis.
Terlambat setengah detik, ia akan menjadi orang yang disalahkan seluruh negeri.
Lebih cepat setengah detik, ia menjadi alasan mengapa serangan lawan bahkan tidak pernah sempat lahir.
Malam itu Unai Simón bermain bukan hanya sebagai penjaga gawang.
Ia menjadi bek terakhir sekaligus bek pertama.
Ia menjaga gawangnya dengan sarung tangan, tetapi mempertahankan pertahanan Spanyol dengan keberanian membaca masa depan beberapa detik lebih cepat daripada orang lain.
Sementara Prancis terus berusaha mencari jalan menemukan permainan terbaiknya.
Mbappé berlari.
Dembélé mencoba menembus sisi lapangan.
Tchouaméni melepaskan tembakan.
Désiré Doué datang membawa tenaga baru.
Rayan Cherki dimasukkan untuk menghadirkan imajinasi.
Namun semuanya terasa seperti potongan-potongan kalimat yang tidak pernah berubah menjadi sebuah cerita.
Mereka memang menciptakan beberapa peluang.
Tetapi hampir tidak ada satu pun yang benar-benar membuat pertahanan Spanyol kehilangan napas.
Bahkan pada menit-menit akhir, ketika Mbappé, Dembélé, dan pemain-pemain Prancis bergantian melepaskan tembakan yang melenceng dari sasaran, yang terasa bukanlah tekanan terakhir menuju sebuah kebangkitan.
Melainkan kegelisahan sebuah tim yang belum menemukan kembali dirinya.
Di pinggir lapangan berdiri dua maestro.
Didier Deschamps melakukan hampir semua yang dapat dilakukan seorang pelatih. Cedera William Saliba memaksanya mengubah rencana lebih cepat. Pergantian demi pergantian dilakukan; Manu Koné, Désiré Doué, Theo Hernández, hingga Rayan Cherki masuk untuk mengubah wajah pertandingan.
Tetapi wajah itu tetap tidak berubah.
Di sisi lain, Luis de la Fuente tampak seperti seorang dirigen yang mengetahui persis kapan sebuah biola harus berhenti agar suara cello terdengar lebih jelas. Ia memasukkan Ferran Torres, Pedri, Mikel Merino, Nico Williams, dan Marcos Llorente tanpa mengubah identitas timnya sedikit pun.
Pergantian pemain bukan untuk mencari permainan.
Pergantian pemain dilakukan agar permainan yang sama dapat terus hidup.
Itulah perbedaan paling mahal yang terlihat malam itu.
Prancis memiliki pemain-pemain hebat.
Spanyol memiliki sebuah gagasan yang dimainkan oleh sebelas orang sekaligus.
Ketika peluit panjang akhirnya berbunyi, para pemain Spanyol saling berpelukan dengan wajah yang tenang. Mereka tidak merayakan kemenangan seperti orang yang baru saja menciptakan keajaiban. Mereka merayakannya seperti orang yang berhasil membuktikan sesuatu yang memang telah mereka yakini sejak awal.
Sementara para pemain Prancis berjalan perlahan meninggalkan lapangan.
Di antara mereka, Maignan menoleh sejenak ke arah tribun yang mulai dipenuhi nyanyian para pendukung Spanyol. Seorang penjaga gawang tahu bahwa ada malam-malam ketika dua gol terasa lebih berat daripada jumlahnya. Karena yang sesungguhnya roboh bukanlah jaring gawangnya.
Melainkan keyakinan bahwa tim di depannya masih utuh.
Barangkali itulah makna terdalam semifinal itu.
Sepak bola pada tingkat tertinggi tidak selalu dimenangkan oleh tim yang memiliki pemain paling cepat, paling mahal, atau paling terkenal.
Ia dimenangkan oleh tim yang paling mengenal dirinya sendiri.
Dan malam itu, Spanyol datang ke Arlington sebagai sebelas orang pemain.
Mereka pulang sebagai satu jiwa.
Sedangkan Prancis meninggalkan stadion dengan pekerjaan yang jauh lebih berat daripada sekadar memperbaiki taktik.
Mereka harus menemukan kembali wajah yang, selama sembilan puluh menit itu, seolah hilang di tengah sorak-sorai kemenangan lawannya.
*)Pemerhati dan Penulis sepakbola, Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia
