Zuhud Pada Dunia: Jalan Pulang Manusia dari Ketamakan

“Dunia itu hanya tiga hari:
kemarin yang telah pergi,
esok yang belum tentu datang,
dan hari ini yang sedang engkau jalani.”
Hasan al Bashri
Ada sesuatu yang bermakna dan dalam dari kalimat Hasan al Bashri itu. Ia tidak terdengar seperti ancaman. Tidak pula seperti ceramah seorang dai yang ingin menakut nakuti manusia tentang dunia. Kalimat itu justru terasa seperti bisikan seorang tua bijak yang pernah melihat manusia kehilangan dirinya sendiri karena terlalu mencintai apa yang sebenarnya tidak pernah benar benar dimiliki.
Kemarin telah pergi.
Esok belum tentu datang.
Dan hari ini adalah satu satunya ruang yang sungguh berada dalam genggaman manusia.
Tetapi anehnya, justru pada hari ini manusia paling sering tidak hadir sepenuhnya. Tubuhnya hidup, tetapi jiwanya sibuk mengejar hari esok yang tidak pasti. Ia menumpuk harta seolah akan tinggal selamanya. Ia mengejar pengakuan seakan seluruh makna hidup bergantung pada penilaian manusia lain. Ia takut kehilangan jabatan, takut kehilangan kekayaan, takut kehilangan kedudukan, sampai perlahan lahan kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: ketenangan batin.
Di titik inilah Hasan al Bashri berbicara tentang zuhud.
Namun zuhud sering disalahpahami.
Sebagian orang mengira zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya: menjauhi harta, membenci kekayaan, hidup miskin, atau menarik diri dari kehidupan sosial. Di sisi lain, dunia modern justru bergerak pada ekstrem yang berbeda: memuliakan dunia secara berlebihan. Ukuran keberhasilan manusia dipersempit menjadi angka, berapa hartanya, seberapa terkenal dirinya, seberapa tinggi jabatannya, seberapa mahal apa yang ia kenakan.
Dua ekstrem ini sama sama berbahaya.
Ekstrem pertama membuat manusia memusuhi dunia seolah dunia adalah dosa itu sendiri. Padahal dunia adalah amanah dan ruang pengabdian. Nabi Muhammad SAW sendiri berdagang, membangun masyarakat, memimpin negara, bahkan mengatur strategi perang dan ekonomi. Islam tidak pernah mengajarkan kemalasan spiritual yang menjauh dari tanggung jawab kehidupan.
Tetapi ekstrem kedua lebih halus dan lebih berbahaya: ketika manusia menjadikan dunia bukan lagi alat, melainkan tujuan akhir.
Pada titik itu manusia tidak lagi memiliki dunia, dunia yang mulai memiliki manusia.
Hasan al Bashri memahami persoalan ini dengan sangat jernih. Ia hidup pada masa ketika kekuasaan Islam sedang berkembang besar. Kekayaan masuk ke kota kota Muslim. Istana istana mulai berdiri. Kemewahan tumbuh. Tetapi bersama itu, ia menyaksikan sesuatu yang lain: hati manusia perlahan berubah.
Dulu manusia menggunakan harta untuk hidup.
Kini manusia menghabiskan hidup demi harta.
Dulu kekuasaan dipahami sebagai amanah.
Kini kekuasaan mulai dipertahankan dengan segala cara.
Dulu manusia takut berbuat zalim.
Kini manusia justru takut kehilangan kenikmatan dunia.
Karena itu zuhud menurut Hasan al Bashri bukanlah memiskinkan diri, melainkan memerdekakan hati.
Seseorang boleh kaya, tetapi jangan menggantungkan harga dirinya pada kekayaannya.
Seseorang boleh berkuasa, tetapi jangan mabuk oleh kekuasaan.
Seseorang boleh dihormati, tetapi jangan menjadikan pujian manusia sebagai sumber nilai dirinya.
Zuhud bukan tentang apa yang ada di tangan, tetapi tentang apa yang menguasai hati.
Sebab ada orang miskin yang sangat tamak kepada dunia. Dan ada orang kaya yang justru sangat merdeka dari dunia.
Inilah yang sering gagal dipahami.
Masalah terbesar manusia bukan karena ia memiliki dunia, tetapi ketika dunia mulai menentukan seluruh arah hidupnya. Ketika demi dunia manusia rela berdusta, mengkhianati amanah, menjual prinsip, bahkan mengorbankan keluarganya sendiri. Pada saat itu dunia telah berubah menjadi semacam “tuhan kecil” yang diam diam disembah manusia modern.
Padahal dunia selalu memiliki sifat yang sama sejak dahulu: tidak pernah benar benar memuaskan manusia.
Semakin dikejar, semakin haus.
Semakin dimiliki, semakin takut kehilangan.
Semakin tinggi posisi dicapai, semakin besar kecemasan untuk mempertahankannya.
Karena itu Hasan al Bashri berkali kali mengingatkan tentang kefanaan hidup. Bukan agar manusia berhenti bekerja, tetapi agar manusia sadar batas. Sebab salah satu sumber kerusakan terbesar dalam sejarah adalah manusia yang merasa hidupnya hanya tentang dunia.
Dari sanalah lahir kerakusan ekonomi tanpa empati.
Kekuasaan tanpa rasa malu.
Pembangunan tanpa keadilan.
Dan hubungan manusia yang kehilangan ketulusan karena semuanya diukur dengan manfaat.
Zuhud datang untuk mengembalikan kewarasan manusia.
Ia mengajarkan bahwa dunia penting, tetapi bukan segalanya. Bahwa bekerja adalah ibadah, tetapi hidup bukan sekadar perlombaan menumpuk hasil. Bahwa manusia perlu sukses, tetapi jangan sampai sukses membuatnya kehilangan nurani.
Sebab manusia yang terlalu mencintai dunia biasanya hidup dalam ketakutan yang panjang:
takut miskin,
takut jatuh,
takut kalah,
takut tidak dipuji,
takut dilupakan.
Sedangkan orang yang zuhud justru memiliki kemerdekaan yang sulit dibeli apa pun.
Ia tidak mudah silau.
Tidak mudah diperbudak.
Tidak mudah diintimidasi kehilangan dunia.
Karena hatinya tidak menggantung sepenuhnya kepada dunia itu sendiri.
Dan justru di situlah paradoksnya:
orang yang zuhud terhadap dunia sering kali lebih tenang menjalani dunia.
Ia bekerja tanpa kerakusan.
Memimpin tanpa mabuk kuasa.
Memberi tanpa merasa paling mulia.
Kehilangan tanpa hancur sepenuhnya.
Zuhud melahirkan keseimbangan batin yang hari ini semakin langka.
Bahkan dalam kehidupan modern, manusia sebenarnya sedang haus pada nilai zuhud tanpa menyadarinya. Lihatlah bagaimana banyak orang kaya tetap gelisah. Banyak tokoh terkenal justru hidup dalam kesepian. Banyak manusia berhasil secara materi tetapi kehilangan arah hidupnya.
Karena ternyata ketenangan tidak otomatis lahir dari kepemilikan.
Hasan al Bashri seakan ingin mengingatkan bahwa hati manusia memiliki ruang yang tidak akan pernah bisa dipenuhi hanya oleh dunia. Selalu ada kehampaan yang tidak selesai oleh uang, jabatan, atau popularitas.
Dan mungkin itulah salah satu hadiah terbesar dari zuhud:
ketenangan.
Di dunia, zuhud membuat manusia lebih merdeka menghadapi kehilangan dan lebih jernih menghadapi kehidupan. Ia tidak mudah hancur hanya karena dunia berubah. Ia mampu menikmati nikmat tanpa diperbudak nikmat itu sendiri.
Sedangkan di akhirat, zuhud melahirkan harapan yang lebih besar:
bahwa manusia datang menghadap Tuhan tidak dengan hati yang dipenuhi kesombongan dunia, tetapi dengan jiwa yang pernah belajar menempatkan dunia pada tempatnya.
Sebab pada akhirnya, dunia memang penting. Kita hidup di dalamnya, bekerja di dalamnya, membangun keluarga dan peradaban di dalamnya. Tetapi dunia bukan rumah terakhir manusia.
Ia hanyalah jalan yang sedang dilewati.
Dan mungkin karena itulah Hasan al Bashri mengingatkan dengan kalimat yang begitu sederhana tetapi terasa menembus batin:
“Dunia itu hanya tiga hari:
kemarin yang telah pergi,
esok yang belum tentu datang,
dan hari ini yang sedang engkau jalani.”
Karena manusia yang memahami itu dengan sungguh sungguh biasanya akan hidup lebih tenang:
tidak mabuk ketika memiliki,
dan tidak hancur ketika kehilangan.
Penulis: Azis Subekti
Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
