Menit ke-116: Sebelum Kita Menyebutnya Akhir

Oleh: Azis Subekti*
Di Gelora Bung Karno malam itu, saya Azis Subekti menyaksikan betapa panjangnya beberapa menit ketika harapan sedang dipertaruhkan.
Indonesia tertinggal. Waktu terus berjalan. Dari tribun, saya memandang para pemain yang masih berusaha menemukan jalan ke gawang Thailand, sementara di dalam diri saya, keinginan untuk percaya mulai berhadapan dengan kecemasan yang sulit ditenangkan. Ada bagian dari hati yang ingin terus berharap. Ada pula yang pelan-pelan menyiapkan diri untuk menerima sesuatu yang tidak diinginkan.
Kelak saya akan mengingat malam itu melalui sebuah gol. Tetapi untuk memahami mengapa gol tersebut begitu dalam membekas, saya harus kembali kepada menit-menit ketika ia belum terjadi.
Malam final FIFA ASEAN Cup itu mempertemukan begitu banyak kehidupan di dalam satu stadion. Saya berada di antara orang-orang yang sebagian besar tidak saya kenal. Kami datang dari kesibukan masing-masing, membawa riwayat yang berbeda, lalu menyerahkan perhatian kepada lapangan yang sama.
Saya membayangkan ada yang datang setelah melewati hari yang berat. Mungkin usahanya sedang menurun, pekerjaannya belum pasti, atau ada persoalan keluarga yang untuk sementara ia simpan sendiri. Saya tidak mengetahui kisah mereka. Namun saya percaya, di balik setiap wajah yang menatap lapangan, ada kehidupan yang sedang diusahakan agar tetap berjalan.
Sepak bola memberi kami kesempatan untuk merasa dekat tanpa harus lebih dahulu saling mengenal. Sebuah serangan membuat kami menunggu bersama. Sebuah peluang yang terbuang meninggalkan kecewa yang dapat dipahami tanpa penjelasan.
Lalu Dean James mencetak gol pada menit ke-84.
Kemenangan terasa mendekat. Namun tiga menit kemudian, Iklas Sanron menyamakan kedudukan. Begitu singkat jarak antara kegembiraan dan kecemasan yang kembali datang.
Saya mengikuti pertandingan yang berlanjut, tetapi perubahan itu seperti menyentuh ingatan lain dalam hidup: saat kita merasa sebuah ikhtiar segera membuahkan hasil, lalu keadaan meminta kita bersabar lebih lama. Betapa sering kita harus menata kembali harapan yang telanjur kita anggap sebagai kepastian.
Di lapangan, para pemain meneruskan pekerjaan mereka. Bola harus direbut kembali. Ruang harus dicari. Kesempatan yang lewat tidak dapat dipanggil pulang dengan penyesalan.
Pertandingan memasuki perpanjangan waktu. Kemudian, pada menit ke-111, Indonesia sudah tertinggal 1–2.
Angka di papan skor itu terasa berat. Di hadapan kami ada lapangan yang luas, tetapi waktu untuk mengubah keadaan semakin sempit. Saya mulai memahami mengapa manusia kadang menyerah sebelum benar-benar kehilangan kesempatan: berharap dalam keadaan seperti itu membutuhkan tenaga. Ada rasa sakit yang ingin kita hindari dengan lebih dahulu menerima kekalahan.
Tetapi para pemain masih bergerak.
Dari tribun, saya melihat mereka terus mendekati pertahanan Thailand. Saya tidak tahu apa yang sedang mereka katakan kepada diri sendiri. Yang terlihat adalah tubuh-tubuh letih yang masih mencari jalan.
Kemudian menit ke-116 tiba.
Rizky Ridho mengirim bola kepada Egy Maulana Vikri di sisi kiri pertahanan Thailand. Setelah mengumpan, Ridho terus bergerak. Egy mengolah bola, mencari jalan masuk ke kotak penalti, lalu membaca gerak rekannya.
Umpan terobosan itu dilepaskan.
Ridho berlari menyambutnya, lolos dari jebakan offside, kemudian mengirim umpan silang ke depan gawang. Penjaga gawang Thailand menepis bola. Sesaat, kesempatan itu tampak kembali lepas. Namun bola hasil tepisan jatuh tepat di posisi Elkan Baggott.
Elkan menyelesaikannya dengan tenang.
Gol. Dua sama.
Sampai sekarang, ketika mengingat rangkaian itu, saya merasa ada bagian yang akan hilang apabila kita hanya menyebut nama pencetak gol. Sebelum penyelesaian Elkan, ada Ridho yang melanjutkan larinya. Ada Egy yang memperhatikan dan memahami gerak itu. Ada bola yang ditepis, lalu seorang rekan yang berada di tempat untuk menyambut kesempatan berikutnya.
Dalam beberapa detik, mereka berhasil menyambungkan pekerjaan satu sama lain.
Saya menyaksikannya dari tribun dengan perasaan yang sulit diringkas menjadi kegembiraan semata. Sesuatu yang beberapa saat sebelumnya terasa hampir tertutup ternyata masih menyisakan jalan. Dan jalan itu terbuka melalui orang-orang yang tetap bersedia saling mencari di tengah kelelahan.
Barangkali demikian pula harapan bekerja dalam kehidupan.
Kita dapat mengerahkan seluruh kemampuan, lalu tiba pada batas yang tidak sanggup kita lewati sendiri. Pada saat seperti itu, kehadiran seseorang yang memahami arah langkah kita dapat menjadi sangat berarti. Ia membantu melihat ruang yang luput dari pandangan, mengembalikan keberanian, atau meneruskan pekerjaan yang belum sanggup kita selesaikan.
Saya teringat Ridho yang terus berlari setelah melepaskan bola. Betapa mudahnya merasa telah menunaikan bagian kita, lalu berhenti menunggu hasil. Malam itu, gerak lanjutannya justru menjadi bagian dari jalan menuju gol.
Egy melihatnya. Elkan menyambut ujungnya.
Ada keindahan yang lahir ketika orang-orang mengerjakan bagiannya sambil tetap memperhatikan pekerjaan orang lain.
Namun gol penyama kedudukan belum mengakhiri ujian. Setelah 120 menit, pertandingan harus ditentukan melalui adu penalti.
Saya kembali menunggu. Kali ini perhatian tertuju kepada bola yang diam, penjaga gawang, dan seorang pemain yang harus mengambil keputusan di bawah tekanan. Sepanjang pertandingan mereka bergerak bersama; di titik penalti, seseorang harus melangkah maju membawa tanggung jawabnya sendiri.
Keberanian menjadi begitu dekat dengan keseharian manusia. Kita mempersiapkan diri, menerima dukungan, lalu tetap harus menghadapi saat ketika keputusan mesti diambil tanpa kepastian tentang hasilnya.
Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama menuntaskan tendangan mereka. Sepakan Sarach Yooyen mengenai tiang. Tendangan Nattapong Sayriya digagalkan Emil Audero. Adu penalti berakhir 4–2 untuk Indonesia.
Indonesia juara.
Saya berada di sana ketika penantian itu memperoleh jawabannya. Namun setelah kegembiraan menemukan tempatnya, pikiran saya kembali kepada keadaan sebelum gol menit ke-116. Kepada sesuatu yang masih dikerjakan ketika hasilnya belum terlihat. Kepada keyakinan yang belum mempunyai bukti untuk menguatkan dirinya.
Di situlah pertandingan ini terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang.
Di luar stadion, ada perjuangan yang tidak disaksikan puluhan ribu mata. Seorang pedagang membuka kembali tokonya setelah hari yang sepi. Seorang anak muda memperbaiki lamaran kerja yang belum mendapat jawaban. Orang tua menyusun ulang kebutuhan keluarga, menyisihkan keinginan sendiri agar ada yang tetap dapat diberikan kepada anak-anaknya.
Mereka menjalani hari tanpa mengetahui berapa lama lagi keadaan akan membaik. Tidak ada jam pertandingan yang memberi tahu kapan penantian selesai.
Karena itu, saya ingin berhati-hati ketika berbicara tentang pantang menyerah. Kehidupan tidak selalu menghadiahkan gol penyeimbang. Ada ikhtiar yang harus diperbaiki caranya, ada kehilangan yang perlu diterima, dan ada saat ketika meminta bantuan merupakan langkah paling berani yang dapat kita ambil.
Tetapi kelelahan juga dapat membuat pandangan menyempit. Kita mulai mengira bahwa keadaan hari ini akan berlaku selamanya. Satu kegagalan terasa seperti putusan atas seluruh kemampuan. Satu pintu yang tertutup membuat kita lupa memandang sekeliling.
Malam itu, dari tribun Gelora Bung Karno, saya diingatkan untuk tidak tergesa-gesa mempercayai kesimpulan yang lahir dari keputusasaan.
Saya pulang dengan membawa ingatan tentang sebuah gerak yang diteruskan, sebuah umpan yang dipahami, dan kesempatan yang diselesaikan dengan tenang. Kemenangan itu lahir dari banyak bagian yang saling menjaga agar perjuangan tetap mempunyai arah.
Kelak, ketika menghadapi keadaan yang terasa buntu, saya ingin mengingatnya dengan cara yang sederhana: masih adakah langkah yang dapat saya teruskan, orang yang perlu saya dengarkan, atau ruang yang bisa saya buka agar ikhtiar bersama menemukan jalannya?
Sebab di Gelora Bung Karno malam itu, ketika hati saya mulai belajar menerima kekalahan, Ridho masih berlari.
*)Pemerhati sepakbola, Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
