MIBA: Ketika Negara Memulai dari Diri Sendiri

11 Feb 2026, 21.12231
e2cd7ce4 573c 499a b2b9 bb5d563af20d

 

Keindahan sebuah bangsa tidak pernah lahir dari baliho atau slogan yang dipoles rapi. Ia tumbuh dari disiplin, dari kebiasaan kecil yang dipaksa menjadi standar, lalu perlahan diterima sebagai kesadaran bersama. Dalam sejarah pemerintahan mana pun, perubahan semacam ini hampir selalu dimulai dari satu titik: kekuasaan yang berani menertibkan dirinya sendiri. Di situlah Gerakan MIBA Make Indonesia Beautiful Again yang digerakkan oleh Presiden Prabowo Subianto menemukan makna politiknya yang paling mendasar.

MIBA tidak dibuka dengan seremoni, melainkan dengan perintah eksekutif yang tegas. Lingkungan pemerintahan, alat dan lembaga negara, hingga internal Partai Gerindra diminta lebih dulu berubah: tertib, bersih, bertanggung jawab atas ruang yang mereka kuasai. Negara tidak sedang menggurui rakyat, tetapi memaksa dirinya sendiri untuk patuh. Di sini, kekuasaan memilih bercermin sebelum menunjuk, sebuah langkah yang sederhana tetapi jarang.

Dampak awalnya datang cepat, bahkan mengejutkan. Pantai pantai di Bali yang selama bertahun tahun hidup dalam paradoks pariwisata, indah di iklan, kumuh di kenyataan, mendadak berubah wajah. Sampah yang kerap dianggap tak terelakkan dibersihkan secara masif. Bukan wacana, bukan pilot project, tetapi kerja fisik yang hasilnya bisa dilihat dan dirasakan. Ketika gambar gambar itu viral, publik tersentak oleh satu kesadaran sederhana: ternyata masalahnya bukan tak bisa dibersihkan, melainkan tak pernah dianggap cukup penting untuk diselesaikan.

Di titik inilah MIBA bekerja sebagai pendidikan publik. Ia mengajarkan bahwa keindahan bukan perkara estetika mahal, melainkan konsekuensi dari ketegasan. Sampah bukan sekadar urusan warga, tetapi cermin dari negara yang terlalu lama permisif. Ketika aparatur turun langsung, ketika instruksi dijalankan tanpa banyak alasan, masyarakat belajar bahwa menjaga lingkungan bukan beban tambahan, melainkan standar baru kehidupan bernegara.

Namun justru karena itu, MIBA tidak boleh berhenti pada euforia awal. Sejarah kebijakan kita terlalu sering dipenuhi gerakan yang gemilang di awal, lalu menguap ketika disiplin melemah. Tantangan sesungguhnya kini ada di depan: menjadikan MIBA sebagai kebiasaan sosial, bukan sekadar ingatan publik. Dari pantai ke sungai. Dari kawasan wisata ke permukiman padat. Dari kantor pemerintah ke pasar, sekolah, dan rumah tangga.

Langkah ke depan menuntut konsistensi yang lebih keras dari sekadar niat baik. Penegakan aturan persampahan harus nyata dan setara. Pendidikan lingkungan tidak cukup simbolik, tetapi masuk ke rutinitas birokrasi dan kurikulum. Insentif bagi daerah dan komunitas yang konsisten perlu berjalan beriringan dengan sanksi bagi yang abai. Keindahan tidak lahir dari imbauan, melainkan dari ketertiban yang dijaga terus menerus.

Pada akhirnya, MIBA adalah ujian kesetiaan negara pada hal hal yang tampak remeh. Membersihkan sampah, menertibkan ruang publik, menegakkan disiplin lingkungan, semuanya tidak heroik, jarang dielu elukan, dan cepat dilupakan. Justru karena itulah ia penting. Bangsa yang besar bukan bangsa yang sibuk membangun monumen, tetapi bangsa yang setia merawat hal hal dasar setiap hari. Jika kekuasaan mampu bertahan dalam kesetiaan semacam ini tanpa lelah, tanpa alasan, maka keindahan tak perlu lagi diteriakkan. Ia akan hadir sendiri, pelan pelan, sebagai tanda bahwa negara akhirnya belajar menghormati ruang hidup warganya. Dan di situlah Indonesia yang indah benar benar dimulai: bukan dari slogan, melainkan dari tanggung jawab yang dijalankan sampai akhir.

Jakarta, 8 Februari 2026
Penyimak Taklimat
Azis Subekti