Mimpi Inggris Pupus di Ujung Waktu

Oleh: Azis Subekti *
Di Atlanta, malam berjalan lambat.
Lampu-lampu stadion menggantung seperti bintang yang dipaksa turun ke bumi, menyaksikan dua bangsa yang sejarahnya terlalu panjang untuk sekadar disebut dalam pertandingan sepak bola. Inggris datang membawa keyakinan bahwa disiplin mampu mengalahkan imajinasi. Argentina datang membawa keyakinan yang berbeda: selama peluit terakhir belum berbunyi, pertandingan belum benar-benar selesai.
Di antara dua keyakinan itu berdirilah seorang lelaki berusia tiga puluh sembilan tahun.
Lionel Messi.
Ia tidak tampak sedang tergesa.
Ketika dua puluh satu pemain lain berpacu dengan waktu, ia justru berjalan berdampingan dengannya.
Babak pertama adalah peperangan yang nyaris tanpa celah.
Inggris tidak bermain untuk memukau. Mereka bermain untuk menghilangkan ruang.
John Stones berdiri sebagai jangkar pertahanan yang hampir tak tergoyahkan. Declan Rice memutus aliran serangan sebelum sempat tumbuh. Reece James menutup sisi kanan lapangan dengan disiplin yang membuat setiap serangan Argentina harus mencari jalan lain.
Argentina tetap menguasai bola.
Tetapi menguasai bola tidak selalu berarti menguasai pertandingan.
Messi mencoba menembak.
Meleset.
Enzo Fernández melepaskan tendangan dari luar kotak penalti.
Meleset.
Giuliano Simeone beberapa kali berlari menembus garis pertahanan.
Offside.
Untuk sesaat, Argentina tampak seperti sebuah orkestra yang kehilangan dirijennya.
Sementara Inggris mulai menemukan iramanya.
Gol sering kali lahir dari ruang yang hanya terbuka selama satu tarikan napas.
Begitulah yang terjadi pada menit ke-55.
Morgan Rogers mengangkat kepala sekejap. Ia melihat Anthony Gordon berlari memasuki celah yang nyaris tidak terlihat. Bola dikirim mendatar. Gordon menyambutnya tanpa ragu.
Emiliano Martínez bergerak.
Tetapi bola lebih cepat daripada harapan terakhirnya.
Gol.
Atlanta bergemuruh.
Lagu-lagu kemenangan turun dari tribun Inggris. Ribuan syal putih terangkat ke langit malam Georgia. Para pemain di bangku cadangan saling memeluk. Di wajah Thomas Tuchel terlihat ketenangan seorang pelatih yang merasa rencananya sedang berubah menjadi kenyataan.
Tidak ada yang salah dengan kegembiraan itu.
Hampir semua manusia memang percaya kemenangan datang ketika papan skor mulai berpihak kepada mereka.
Padahal sering kali, pada saat itulah kemenangan baru memperkenalkan dirinya.
Ia belum tentu berpihak hingga akhir.
Di bangku cadangan Argentina, Lionel Scaloni berdiri tanpa kepanikan.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak mengubah wajahnya.
Ia hanya mulai mengubah pertandingan.
Nahuel Molina keluar.
Montiel masuk.
Giuliano Simeone digantikan Rodrigo De Paul.
Lisandro Martínez menyerahkan tempat kepada Nicolás Otamendi.
Lalu, pada menit ke-81, Nicolás Tagliafico berjalan ke luar lapangan.
Seorang penyerang masuk menggantikannya.
Pergantian itu tidak disambut tepuk tangan yang berlebihan. Karena memang model ini selalu terlihat di menit-menit akhir strategi Scolani.
Tetapi sejarah sering kali datang dengan langkah yang nyaris tak terdengar.
Argentina mulai menekan.
Bukan dengan tergesa.
Melainkan dengan kesabaran yang menyerupai ombak.
Satu gelombang.
Lalu gelombang berikutnya.
Lalu berikutnya lagi.
Batu karang tidak runtuh karena satu hantaman.
Ia runtuh karena terlalu lama merasa dirinya kokoh.
Jordan Pickford mulai hidup di tengah badai.
Sundulan demi sundulan dibersihkan pertahanan Inggris.
Alexis Mac Allister datang dari lini kedua.
Julian Álvarez terus bergerak.
Nico González menekan tanpa lelah.
John Stones mulai tertatih setelah tubuhnya menerima benturan demi benturan.
Reece James akhirnya harus meninggalkan lapangan.
Inggris masih unggul.
Namun sesuatu yang tak terlihat mulai bergeser.
Mereka tidak lagi bermain untuk menambah kemenangan.
Mereka mulai bermain agar kemenangan itu tidak hilang.
Dan di situlah, tanpa disadari, rasa takut perlahan mengambil alih keberanian.
Di tengah hiruk-pikuk itu, hanya satu orang yang tidak tampak sedang tergesa.
Lionel Messi.
Ia berjalan.
Mengamati.
Sesekali berhenti.
Seolah pertandingan ini memiliki kecepatan yang berbeda baginya.
Bukan ia yang mengejar waktu.
Justru waktulah yang tampak berjalan mengikutinya.
Menit ke-85.
Messi menerima bola.
Tidak ada dribel yang memecah pertahanan.
Tidak ada gerakan yang mengundang tepuk tangan.
Hanya satu sentuhan.
Lalu satu umpan yang begitu sederhana hingga hampir tidak tampak sebagai karya seorang jenius.
Enzo Fernández datang dari lini kedua.
Gol.
Seketika seluruh stadion berubah.
Yang berubah bukan hanya angka di papan skor.
Yang berubah adalah cara semua orang memandang sisa pertandingan.
Lima menit terakhir mendadak terasa sepanjang sebuah musim.
Inggris mulai terburu-buru.
Operan kehilangan ketenangan.
Tatapan para pemain semakin sering menuju jam pertandingan.
Mereka tidak lagi sedang melawan Argentina.
Mereka sedang melawan sesuatu yang jauh lebih sulit dikalahkan.
Waktu.
Lalu tibalah menit yang kelak hanya tertulis sebagai angka kecil dalam statistik.
90+2.
Begitu singkat.
Namun cukup panjang untuk mengubah sejarah.
Messi kembali menerima bola.
Ia mengangkat kepala.
Dalam sepersekian detik itu, pertandingan seperti berhenti bernapas.
Puluhan ribu orang menunggu tanpa sadar.
Lautaro Martínez mulai berlari.
Baru sebelas menit ia berada di lapangan.
Sebelas menit.
Bagi sebagian pemain, waktu itu bahkan belum cukup untuk benar-benar menyentuh ritme pertandingan.
Tetapi sejarah tidak pernah bertanya berapa lama seseorang hadir.
Sejarah hanya bertanya apa yang ia lakukan ketika waktunya datang.
Messi mengirimkan bola.
Bukan sekadar ke ruang kosong.
Melainkan kepada keyakinan.
Lautaro menyambutnya.
Satu sentuhan.
Lalu sebuah penyelesaian yang begitu tenang hingga justru terasa kejam.
Gol.
Ledakan dari tribun Argentina bukan sekadar suara kemenangan.
Itu adalah suara sebuah bangsa yang sekali lagi melihat harapan datang ketika hampir semua orang mengira segalanya telah selesai.
Lautaro berlari tanpa arah.
Rekan-rekannya mengejarnya.
Sebagian berlutut.
Sebagian menangis.
Sebagian memeluk siapa pun yang berada di dekatnya.
Dan di tengah semua kegembiraan itu, Messi tidak ikut berlari jauh.
Ia hanya berjalan perlahan.
Seolah ia memang sudah mengetahui bahwa pertandingan seperti ini tidak dimenangkan oleh kaki yang paling cepat.
Melainkan oleh seseorang yang sanggup menunggu sampai waktu berpihak kepadanya.
Inggris belum menyerah.
Marcus Rashford masuk.
Ivan Toney masuk.
John Stones yang baru saja mendapat perawatan memaksa dirinya kembali berdiri.
Bola-bola panjang terus dikirim ke kotak penalti Argentina.
Satu demi satu.
Seperti surat yang terlambat tiba kepada penerimanya.
Otamendi menyapu semuanya.
Emiliano Martínez menangkap dengan tenang.
Rodrigo De Paul rela menerima kartu kuning demi menghentikan satu serangan terakhir.
Setiap detik kini menjadi milik Argentina.
Lalu peluit Ismail Elfath akhirnya terdengar.
Beberapa pemain Inggris tidak langsung berjalan.
Mereka tetap berdiri di tempatnya masing-masing.
Harry Kane menatap rumput.
Jordan Pickford memandang papan skor terlalu lama.
John Stones berjalan paling belakang, seolah setiap langkah menuju lorong stadion membuat kekalahan itu semakin nyata.
Di kejauhan, Lautaro tenggelam di tengah pelukan rekan-rekannya.
Messi tidak.
Ia berjalan sendirian.
Pelan.
Hampir tanpa ekspresi.
Seperti seseorang yang baru selesai berbicara sebentar dengan waktu.
Papan skor malam itu hanya mencatat:
Inggris 1–2 Argentina.
Arsip FIFA kelak hanya akan menyimpan nama pencetak gol, dua assist Lionel Messi, serta menit-menit ketika semuanya terjadi.
Tetapi ingatan manusia tidak pernah bekerja seperti arsip.
Ia tidak menyimpan angka.
Ia menyimpan wajah.
Ia menyimpan kesunyian.
Ia menyimpan langkah-langkah para pemain Inggris yang perlahan menghilang ke lorong stadion, ketika mereka akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih tua daripada sepak bola:
bahwa manusia boleh menguasai pertandingan selama delapan puluh sembilan menit.
Tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menguasai waktu.
Dan malam itu, di Atlanta, yang meninggalkan lapangan bukan hanya sebelas pemain Inggris.
Yang pergi bersama langkah-langkah mereka adalah sebuah mimpi, yang pupus tepat di ujung waktu—tanpa pernah mengucapkan selamat tinggal.
Jakarta, 16 Juli 2026
*)Pemerhati dan penulis sepakbola, Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia
