Negara yang Selalu Membangun Jalan Baru, Tetapi Membiarkan Pipa Bocor

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
Indonesia kerap riuh sebagai negara yang terus mencari jalan baru menuju kemakmuran, industrialisasi, hilirisasi, transisi energi, ekonomi digital. Namun di balik kegaduhan itu, temuan PPATK justru menunjukkan persoalan yang lebih mendasar, bukan jalan yang kurang, melainkan kebocoran yang dibiarkan lama di jalur yang sudah ada. Negara sibuk merancang masa depan, tetapi lalai menutup celah yang sejak lama menggerogoti hari ini.
Dugaan penyembunyian omzet Rp12,49 triliun di sektor perdagangan tekstil memperlihatkan bagaimana kebocoran itu bekerja secara sederhana namun efektif. Produksi berjalan, transaksi ramai, tenaga kerja hadir setiap hari, tetapi nilainya dialihkan melalui rekening karyawan dan rekening pribadi. Negara melihat aktivitasnya, tetapi kehilangan nilainya. Seperti rumah besar dengan pasokan air cukup, namun pipa bocor sebelum sampai ke penampungan.
Masalah ini menjadi semakin terang ketika Presiden Prabowo Subianto menyinggung perbedaan data ekspor timah Indonesia dengan data impor negara penerima. Apa yang dicatat di luar negeri lebih besar daripada yang dilaporkan di dalam negeri. Selisih itu bukan sekadar kesalahan pencatatan, melainkan pola lama yang dikenal luas dalam praktik ekonomi global, pengalihan nilai melalui skema harga yang direkayasa.
Di titik inilah kita harus jujur menyebut satu persoalan yang selama bertahun tahun hadir, tetapi jarang disentuh secara tegas, yaitu transfer pricing. Praktik ini bukan fenomena baru, bukan pula wilayah abu abu yang tidak terpetakan. Ia telah lama dikenal sebagai cara paling rapi memindahkan laba, menekan harga saat transaksi intra grup di dalam negeri, lalu membukukan keuntungan di yurisdiksi lain. Yang mengganggu bukan semata praktiknya, melainkan kenyataan bahwa penindakan tegas nyaris tidak pernah benar benar terjadi. Banyak dibahas, sedikit diselesaikan.
Timah bukan pengecualian. Batubara, sawit, nikel, tembaga, hingga emas berada dalam struktur risiko yang sama. Nilai ekonomi diciptakan di dalam negeri, sumber daya dieksploitasi di sini, risiko lingkungan dan sosial ditanggung di sini, tetapi laba dipindahkan ke luar melalui harga yang diatur seolah wajar. Perusahaan tampak hidup dengan margin tipis di dalam negeri, sementara keuntungan sesungguhnya berlabuh di entitas afiliasi luar negeri. Negara hadir sebagai penonton yang mencatat volume, tetapi kehilangan nilai.
Ironinya, respons kebijakan sering bergerak ke arah yang keliru. Kita lebih rajin menambah sumber baru, insentif, proyek besar, ekspansi fiskal, alih alih menutup kebocoran yang sudah nyata. Kita rajin mengepel lantai, tetapi enggan menutup pipa. Padahal capaian PPATK dalam mengamankan puluhan triliun rupiah penerimaan negara menyampaikan pesan yang sangat jelas, uang itu ada. Ia tidak hilang, hanya bocor karena dibiarkan mengalir lewat jalur yang sudah lama diketahui.
Transfer pricing memperlihatkan batas antara kebijakan dan keberanian. Regulasi sebenarnya tersedia, data lintas negara makin terbuka, dan teknologi pengawasan semakin maju. Yang sering tertinggal adalah konsistensi penegakan. Selama praktik ini terus diperlakukan sebagai isu teknis semata, bukan sebagai persoalan keadilan fiskal dan kedaulatan ekonomi, kebocoran akan tetap menjadi bagian dari sistem, bukan anomali.
Pelajaran bagi publik sekaligus penentu arah kebijakan menjadi semakin terang. Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan sumber pertumbuhan. Yang kita kekurangan adalah ketegasan merawat apa yang sudah ada. Menutup kebocoran menuntut disiplin data, pengujian kewajaran harga intra grup, penyandingan sistematis data ekspor impor lintas negara, serta keberanian menegakkan aturan tanpa pandang ukuran usaha dan kepentingan.
Tantangan utama ekonomi Indonesia hari ini bukan menciptakan jalan baru, melainkan memastikan jalan lama tidak terus bocor. Selama transfer pricing dibiarkan tanpa penindakan yang konsisten, pembangunan apa pun akan selalu terasa kurang, bukan karena negara miskin potensi, tetapi karena nilai yang diciptakan tidak pernah sepenuhnya tinggal di rumah sendiri.
