Si Kancil dan Persatuan Nasional

15 Feb 2026, 23.2873
e2b2aa8e 3f09 4f2b bd9f fc352ad957bb

Dalam politik yang sering bising oleh sorotan dan pernyataan keras, ada sosok yang memilih bekerja dengan cara berbeda, tenang, terukur, dan efektif. Sufmi Dasco Ahmad kerap dijuluki Si Kancil. Bukan karena licik, melainkan karena kecerdikannya membaca situasi, kelincahannya menimbang risiko, dan kemampuannya menemukan jalan keluar ketika banyak kepentingan saling berhadapan.

Julukan itu bukan muncul tiba tiba. Ketua MPR RI Ahmad Muzani pernah berkisah tentang pertemuan awalnya dengan Dasco, saat ia diperkenalkan oleh Prabowo Subianto. Kala itu Prabowo mengatakan singkat namun tajam, Ini orang cerdik, bisa menyelesaikan hal yang tidak kalian pikirkan. Kalimat itu segera menemukan pembuktiannya. Dalam hitungan jam, Dasco mampu mengurai persoalan rumit yang dihadapi Partai Gerindra pada proses verifikasi partai politik tahun 2009, fase krusial yang menentukan keberlangsungan sebuah partai politik baru.

Sejak saat itu, reputasi Dasco dibangun bukan oleh panggung, melainkan oleh kerja. Dalam berbagai kesempatan, Prabowo Subianto menyampaikan kepercayaannya kepada Dasco sebagai figur yang tenang, konsisten, dan dapat diandalkan untuk mengelola dinamika politik yang tidak sederhana. Kepercayaan semacam ini hanya lahir dari pengalaman panjang bekerja bersama, terutama di saat saat genting.

Di parlemen, Dasco dikenal piawai merawat perbedaan. Ia memahami bahwa politik bukan sekadar arena adu kuat, melainkan ruang mencari titik temu. Dalam pembahasan kebijakan strategis, ia sering berperan menurunkan tensi, membuka ruang dialog, mengurai kebuntuan, dan memastikan proses berjalan konstitusional. Pendekatan ini membuatnya diterima lintas fraksi, bukan karena kompromi berlebihan, tetapi karena sikap yang rasional dan adil.

Ada kesan kuat lain yang melekat pada diri Dasco, kesetiaan pada kawan. Ia pandai merawat pertemanan dengan tulus, tanpa kalkulasi jangka pendek. Banyak kader di bawahnya dibimbing dengan sabar, diberi ruang tumbuh, dan didorong meniti karier yang lebih tinggi. Relasi itu dibangun bukan secara transaksional, melainkan melalui kepercayaan dan konsistensi.

Pengakuan atas hal ini datang bahkan dari luar lingkar politiknya. Bambang Wuryanto, yang dikenal sebagai Bambang Pacul, menyebut Dasco sebagai galah emas, sosok yang jika seseorang berada di dekatnya, bisa ikut meroket. Sebuah ungkapan yang menggambarkan kemampuannya mengangkat orang lain tanpa kehilangan pijakan dirinya sendiri.

Dalam keseharian kerja, banyak orang merasakan satu hal yang sama. Dasco seperti memiliki mata elang, mampu melihat persoalan dari ketinggian, dan sekaligus memiliki ribuan telinga. Ia mengetahui denyut kerja bawahannya tanpa harus sering bertemu muka, apalagi mencari perhatian. Pengalaman pribadi saya menguatkan kesan itu. Secara fisik bisa berjauhan, pertemuan langsung jarang, tetapi gagasan sering bertemu. Komunikasi berlangsung lewat pesan tertulis atau voice note, singkat, langsung ke inti persoalan. Dari sana, arah menjadi jelas dan kerja bergerak.

Dalam relasi eksekutif dan legislatif, peran Dasco kerap menjadi jembatan yang kokoh. Ia memahami bahasa pemerintahan sekaligus logika parlemen. Ketika diperlukan ketegasan, ia tahu kapan harus berdiri. Ketika situasi menuntut kelenturan, ia membuka ruang kompromi yang bermartabat. Semua dijalankan tanpa gaduh, tanpa kebutuhan untuk tampil menonjol.

Yang membuat ketokohannya terasa utuh adalah kesadarannya bahwa persatuan nasional tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dirawat, dijaga, dan dikerjakan setiap hari, sering kali melalui percakapan kecil, komunikasi yang rapi, dan keputusan keputusan yang tidak selalu populer. Dasco memilih peran itu, bekerja di balik layar, memastikan perbedaan tetap berada dalam bingkai kebersamaan.

Di tengah kecenderungan politik yang mudah terpolarisasi, sosok seperti Sufmi Dasco Ahmad memberi pelajaran yang tenang namun penting. Bahwa kecerdikan politik sejati bukan soal mengalahkan, melainkan menyatukan. Bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari suara paling keras, tetapi dari kepercayaan yang dibangun perlahan.

Di sanalah makna julukan Si Kancil menemukan tempatnya, lincah membaca keadaan, setia pada kawan, cermat bertindak, dan konsisten menjaga tujuan besar. Bukan demi kepentingan pribadi, melainkan untuk merawat satu fondasi utama republik ini, Persatuan Nasional.

Munjul, 5 Januari 2026
Azis Subekti