Soeharto dan Gusdur, Dua Sosok, Satu Cinta untuk Indonesia

Oleh: Azis Subekti
Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra
Saya sepakat dengan pernyataan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, bahwa Presiden Soeharto dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) adalah dua tokoh besar yang memberi kontribusi luar biasa bagi Indonesia.
Dan menurut saya, sudah saatnya bangsa ini memberi penghargaan tertinggi berupa gelar Pahlawan Nasional kepada keduanya.
Sebagai bangsa besar, kita tidak boleh hanya mengingat kesalahan para pemimpin. Kita juga harus menghormati jasa dan kebaikan yang mereka wariskan. Siapa pun yang telah berjuang untuk negeri ini, pantas dihormati dengan cara yang bermartabat.
Saya melihat Pak Harto sebagai sosok negarawan sejati. Di masa awal kepemimpinannya tahun 1967, beliau menata ulang arah pembangunan bangsa. Ada Repelita, ada Trilogi Pembangunan, dan ada GBHN semua itu menjadi pondasi ekonomi dan arah pembangunan nasional yang kuat.
Bahkan hingga sekarang, banyak hal yang masih kita nikmati hasilnya.
Bagi saya, GBHN itu bukan nostalgia, melainkan konsep bernegara yang menjamin kesinambungan pembangunan.
Fondasi yang baik itu tidak perlu ditinggalkan, cukup diperbaiki dan disesuaikan dengan zaman.
Itulah warisan Pak Harto yang patut kita hargai.
Sementara Gusdur adalah tokoh yang membawa semangat kebebasan dan pluralisme.
Beliau membuka ruang bagi rakyat untuk berpendapat, berkeyakinan, dan berekspresi tanpa takut.
Gusdur mengajarkan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan bangsa.
Beliau menegakkan nilai kemanusiaan dengan keberanian moral yang jarang dimiliki pemimpin mana pun.
Dua sosok ini Soeharto dan Gusdur memang berbeda latar dan gaya kepemimpinan, tapi keduanya punya cinta yang sama terhadap Indonesia.
Pak Harto menata sistem dan membangun pondasi, Gusdur menumbuhkan kebebasan dan kemanusiaan.
Dua nilai besar yang seharusnya berjalan berdampingan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada mereka bukan hanya soal penghargaan,
tetapi juga pendidikan sejarah untuk generasi muda.
Anak-anak kita hari ini mungkin tak mengenal lagi siapa Pak Harto atau Gusdur, padahal mereka adalah bagian penting dari perjalanan bangsa.
Dengan gelar pahlawan, nama mereka akan tetap diingat, bukan karena mereka sempurna,
tetapi karena mereka telah berbuat nyata bagi Indonesia.
Saya percaya, bangsa besar bukan yang melupakan masa lalunya,
melainkan yang mampu menghormati jasa mereka yang telah berjuang.
Dan dalam konteks itu, saya dengan penuh keyakinan mengatakan:
Soeharto dan Gusdur layak disebut Pahlawan Nasional.
