Samudra yang Tidak Ditaklukkan: Cheng Ho dan Etika Kekuasaan

17 Feb 2026, 20.57219
2326db0e ff77 48cf 9bd4 9dfb03d9cfd6

 

Laut selalu memiliki cara sendiri untuk menyimpan rahasia manusia. Ia tidak mencatat dengan tinta, tetapi dengan arus; tidak dengan arsip, tetapi dengan gema layar yang pernah mengembang di dadanya. Di antara desir angin dan asin yang menempel di bibir cakrawala, pernah berdiri seorang lelaki yang menjadikan samudra bukan sebagai medan takluk, melainkan sebagai ruang perjumpaan. Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho.

Ia lahir dari tanah Yunnan yang jauh dari gemerlap istana. Masa kecilnya terenggut oleh perang dan politik. Tubuhnya dilukai sejarah, masa depannya dibelokkan oleh kuasa. Namun dari luka itulah ia tumbuh, bukan sebagai bayang bayang dendam, melainkan sebagai pelaut yang memahami bahwa dunia lebih luas daripada tembok kekuasaan. Ia mengerti bahwa laut bukan sekadar jarak yang harus ditaklukkan, melainkan jembatan yang harus diseberangi dengan martabat.

Dalam kajian yang teliti dari Edward L. Dreyer dan narasi yang hidup dari Louise Levathes, kita melihat Cheng Ho sebagai lebih dari sekadar komandan armada. Ia adalah arsitek wibawa. Di bawah mandat Kaisar Yongle, ia memimpin kapal kapal raksasa, lebih besar dari apa pun yang dikenal dunia kala itu, menyusuri Laut Tiongkok Selatan, menembus Selat Malaka, mengarungi Samudra Hindia hingga Afrika Timur.

Armada itu adalah pernyataan politik yang terapung. Ia tidak datang diam diam. Layar layarnya mengembang seperti deklarasi. Namun yang dibawanya bukan meriam untuk menaklukkan daratan, melainkan porselen, sutra, dan pesan diplomasi. Ia membawa konsep kekuasaan yang tidak merasa perlu menjajah untuk dihormati.

Di pelabuhan pelabuhan Asia Tenggara, di Kalikut, di Hormuz, di pesisir Afrika, nama Cheng Ho disebut dengan takzim, bukan dengan trauma. Ia menegakkan sistem tributari Ming, ya, itu adalah ekspresi supremasi simbolik, namun bukan kolonialisme dalam arti perampasan dan pendudukan. Ia menunjukkan bahwa sebuah imperium dapat hadir sebagai pusat gravitasi, bukan sebagai penjajah.

Di sinilah letak pelajaran yang jarang kita gali dengan jujur.

Pada saat Eropa, beberapa dekade kemudian, berlayar dengan semangat emas, kejayaan, dan kitab di tangannya yang sering berujung pada penaklukan brutal, Tiongkok telah lebih dahulu mengirim armada yang jauh lebih besar, tetapi memilih untuk tidak membangun koloni permanen. Sejarah dunia bisa saja mengambil arah berbeda jika pilihan itu diubah.

Cheng Ho adalah paradoks yang lembut. Seorang Muslim yang menjadi laksamana dalam tatanan Konfusianisme. Seorang kasim yang memimpin ribuan lelaki bersenjata. Seorang utusan kekaisaran yang mengerti bahwa rasa hormat lebih tahan lama daripada rasa takut. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus memamerkan taring; kadang ia cukup menunjukkan kedalaman.

Namun sejarah, seperti samudra, memiliki arus baliknya sendiri.

Setelah tujuh pelayaran besar itu, setelah cakrawala dibentangkan selebar mungkin, Dinasti Ming memilih menarik diri. Kapal kapal besar itu tidak lagi dilayarkan. Catatan catatan dibatasi. Tiongkok menutup diri dari dunia yang pernah disentuhnya. Armada yang pernah menjadi simbol keterbukaan berubah menjadi kenangan.

Di sinilah tragedinya.

Bukan karena Cheng Ho gagal. Justru karena ia berhasil menunjukkan bahwa kekuasaan dapat berwajah lain dan wajah itu tidak diwarisi.

Kisah ini bukan nostalgia maritim. Ia adalah cermin etika bagi zaman kita. Ketika hari ini kekuatan ekonomi dan militer kembali bersaing memperebutkan jalur laut, ketika samudra dipenuhi kapal dagang dan kapal perang, pertanyaan yang sama menggema: apakah mungkin menjadi kuat tanpa menjadi rakus? Apakah mungkin menjadi besar tanpa merasa perlu merendahkan?

Cheng Ho telah menjawab dengan caranya sendiri. Ia menulis puisi diplomasi di atas ombak. Ia membuktikan bahwa dominasi bisa diwujudkan sebagai jaringan, bukan jeruji. Bahwa peradaban yang percaya diri tidak perlu membangun tembok di negeri orang untuk merasa unggul.

Maka ketika kita menatap laut hari ini, laut yang sama yang pernah dilayarinya, kita tidak sedang memandangi hamparan air semata. Kita sedang memandangi pilihan kita sendiri.

Apakah kita akan mengulang sejarah sebagai perebut ruang, atau menuliskannya sebagai perajut jejaring? Apakah kekuatan kita akan dikenang sebagai bayangan yang menakutkan, atau sebagai cahaya yang memandu?

Samudra tidak pernah meminta untuk ditaklukkan. Ia hanya menguji kedewasaan siapa pun yang melintasinya.

Dan mungkin, di sanalah pesan Cheng Ho berlabuh dengan tenang namun dalam: bahwa kebesaran sejati tidak terletak pada seberapa luas wilayah yang bisa kita kuasai, melainkan pada seberapa jauh kehadiran kita membuat dunia merasa lebih aman, lebih terhubung, dan lebih bermartabat.

Jika suatu hari kapal kapal kita kembali berlayar, dalam bentuk gagasan, teknologi, atau kekuatan ekonomi, biarlah mereka berangkat dengan etika yang sama: datang untuk menjalin, bukan menjarah; hadir untuk menguatkan, bukan menundukkan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mengingat siapa yang berlayar paling jauh. Ia mengingat siapa yang pulang tanpa meninggalkan luka.

Di bawah langit Imlek 2026

yang teduh,

Azis Subekti